ARTICLE AD BOX
Liputan6.com, Jakarta Setelah peluit panjang berbunyi di Craven Cottage, Kobbie Mainoo terlihat murung. Ia duduk termenung di lapangan sebelum berjalan pelan ke bus tim Manchester United dengan kepala tertunduk.
Mainoo sama sekali belum bermain di dua laga awal Premier League musim ini. Raut wajahnya jelas menggambarkan frustrasi mendalam karena hanya menjadi penonton dari bangku cadangan.
Kondisi ini bukan hal baru. Sejak lama, pertanyaan soal peran Mainoo dalam sistem Ruben Amorim memang terus bergema di Old Trafford. Bahkan, gosip hengkang dari klub masa kecilnya kini makin kencang terdengar.
Situasi pelik ini menempatkan Mainoo dalam persimpangan karier penting. Apakah ia bertahan dan berjuang merebut posisi, atau memilih jalan keluar sebelum jendela transfer ditutup?
Mainoo Frustrasi di Bawah Amorim
Sumber internal klub menyebutkan bahwa Mainoo sudah membicarakan peluang hengkang kepada rekan setimnya. Ia merasa kesempatan bermain makin menipis, sementara Manchester United pun terbuka untuk menjual dengan harga tepat.
Meski tidak masuk dalam daftar pemain ‘buangan’ seperti Garnacho, Antony, Sancho, dan Malacia, nama Mainoo sudah sejak Januari dipertimbangkan untuk dilepas. Klub disebut bersedia menerima tawaran sekitar 45 juta pounds, jauh di bawah banderol 70 juta pounds yang pernah dipasang ke Chelsea.
Bayern Munchen sempat melirik, begitu pula Erik ten Hag yang kini menangani Bayer Leverkusen. Namun, kendala finansial membuat kepindahan urung terjadi. Tottenham juga dikaitkan, meski belum ada langkah konkret.
Kontrak Mandek dan Permintaan Gaji
Mainoo menandatangani kontrak empat tahun pada Februari 2023, saat ia baru memiliki segelintir penampilan senior. Saat itu, gajinya hanya sekitar 20 ribu pounds per pekan, standar untuk talenta akademi yang baru naik ke tim utama.
Namun setahun kemudian, ia sudah menjadi bagian penting di bawah Ten Hag, tampil 32 kali dan mencetak lima gol, termasuk gol kemenangan di final Piala FA melawan Manchester City. Performanya bahkan mengantarkan ke panggung Euro 2024 bersama Timnas Inggris.
Dengan status bintang muda, Mainoo berharap gajinya naik signifikan hingga sepuluh kali lipat. Sayangnya, pihak klub enggan memenuhi permintaan tersebut. Negosiasi pun menemui jalan buntu, apalagi di bawah Amorim menit bermainnya kian terbatas.
Perubahan Taktik Amorim dan Dampaknya
Ruben Amorim kini lebih sering memainkan Bruno Fernandes sebagai gelandang tengah, membuat Mainoo semakin tersisih. Kedatangan Matheus Cunha dan Bryan Mbeumo juga menggeser posisi Fernandes, yang seharusnya bisa memberi celah bagi Mainoo.
Namun faktanya, Amorim tidak lagi mempercayai Mainoo di sektor tengah. Setelah sempat dimainkan sebagai gelandang pivot, ia kemudian dipasang sebagai nomor 10 hingga false nine sebelum akhirnya kehilangan tempat karena cedera.
Begitu pulih, kesempatan Mainoo hanya datang di laga rotasi. Bahkan di final kompetisi Eropa melawan Tottenham, ia baru masuk pada menit ke-90. Situasi ini menegaskan bahwa kepercayaan Amorim pada Mainoo menurun drastis.
Kritik pada Gaya Komunikasi Amorim
Menurut sejumlah pihak di sekitar Mainoo, masalah bukan hanya menit bermain, tetapi juga minimnya komunikasi dari Amorim. Sang pelatih jarang memberi instruksi detail, hanya menegaskan bahwa semua pemain harus berlatih keras untuk mendapat tempat.
Amorim memang dikenal keras, bahkan Casemiro sempat tersingkir sebelum akhirnya direbutkan lagi melalui performa latihan. Namun untuk pemain muda seperti Mainoo, kurangnya arahan spesifik justru membuatnya bingung.
Beberapa orang terdekat Mainoo bahkan terkejut dengan perlakuan ini. Mereka menilai potensi sang pemain tidak dimanfaatkan secara maksimal, meski Amorim mengaku hanya ingin meningkatkan tempo dan mobilitas dalam permainannya.
Ancaman Putus Tradisi Akademi MU
Mainoo adalah simbol kebanggaan akademi Manchester United. Ia mewakili tradisi panjang yang mencatatkan pemain akademi selalu ada di skuad senior sejak 1937.
Jika Mainoo pergi, rekor 4.323 laga beruntun dengan wakil akademi bisa terancam putus. Apalagi musim ini, ia kerap menjadi satu-satunya lulusan akademi di daftar skuad utama.