ARTICLE AD BOX
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bekerja sama dengan PT Moosa Genetika Farmindo dan IPB University meluncurkan Program Sapi Merah Putih, inisiatif yang diklaim bisa meningkatkan kualitas genetik sapi perah lokal Indonesia.
Sekretaris Kementerian PPN/Sekretaris Utama Bappenas, Teni Widuriyanti, mengatakan peluncuran program ini bagian dari prioritas ketahanan pangan sekaligus mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Jadi ini adalah tindak lanjut kerja sama yang dilakukan oleh Bappenas. Sebenarnya tugas kami adalah melakukan perencanaan menyiapkan sebagai enabler, kementerian yang sifatnya mendorong kalau ada inovasi-inovasi yang akan dilakukan terkait dengan program-program prioritas,” jelas Teni dalam media briefing program Sapi Merah Putih di kantornya, Kamis (28/8).
Ia menyebut, kerja sama dengan PT Moosa Genetika dan IPB University bertujuan memperbaiki kualitas genetik sapi lokal melalui bioteknologi reproduksi molekuler modern. Program ini diharapkan mampu meningkatkan produksi susu nasional yang saat ini masih jauh dari kebutuhan.
Data Bappenas menunjukkan, konsumsi susu Indonesia terus meningkat mencapai lebih dari 4,5 juta ton per tahun, namun produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan atau 0,9 juta ton. Akibatnya, 80 persen pasokan susu masih dipenuhi dari impor.
Populasi sapi perah nasional saat ini sekitar 540 ribu ekor, dengan mayoritas (80 persen) dipelihara peternak rakyat skala kecil dengan produktivitas rata-rata hanya 10–12 liter per ekor per hari, jauh di bawah potensi optimal.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, mengatakan kerja sama ini diarahkan untuk menjawab tantangan rendahnya produktivitas susu dan sekaligus mendukung sasaran pembangunan nasional.
“Bagaimana sebenarnya peningkatan kualitas SDM, karena sapi yang dikembangkan nanti diharapkan untuk bisa menyediakan susu yang mungkin bisa mendukung program besar dari pemerintahan yang sekarang ada, yaitu pemberian Makan Bergizi Gratis," kata Teguh di kesempatan yang sama.
Teguh bilang, perbaikan kualitas genetik melalui inovasi ini juga berpotensi menurunkan kemiskinan dan meningkatkan kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen.
Sapi Merah Putih Pakai Standardisasi IGBV
CEO PT Moosa Genetika Farmindo, Deddy Fachruddin, mengatakan urgensi pembentukan sapi perah lokal yang lebih adaptif terhadap kondisi tropis.
“Semua negara itu berlomba-lomba menciptakan sapi lokal yang efisien. Dengan jumlah sapi sedikit, mereka bisa menghasilkan susu lebih banyak. Tetapi ini tidak terjadi di Indonesia. Faktanya, kita tidak punya sapi perah asli Indonesia,” kata Deddy.
Melalui Indonesian Genomic Breeding Value (IGBV), sistem pemuliaan genetik berbasis DNA pertama di Indonesia, Program Sapi Merah Putih menghasilkan skor genetik sapi perah 2,3 kali lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.
Saat ini, telah lahir dan dikembangkan sekitar 80 ekor pedet sapi Merah Putih dengan kualitas genetik unggul. Deddy menjelaskan, hasil program ini akan dibagi dalam dua...