ARTICLE AD BOX
Oleh : Achmad Tshofawie; Kordinator ECO-FITRAH, Peminat kajian strategis, Keluarga FKPPI & ICMI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Manusia sering memahami kenyang sebagai nikmat, padahal lapar pun bisa menjadi karunia. Alquran tidak hanya menyebut rezeki, tetapi juga menyebut lapar sebagai salah satu jalan pendidikan jiwa.
Dalam QS Al-Baqarah:155 Allah berfirman: “Dan sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.”
Perhatikan, Allah menyebut “sedikit kelaparan”, bukan kelaparan yang parah. Itu tanda kasih sayang-Nya: lapar dijadikan sekolah kehidupan, bukan azab. Ia hadir agar manusia belajar sabar, syukur, empati, dan tidak terjerat nafsu. Disini lapar sebagai bahasa Ilahi.
Namun, dalam sejarah modern kita menyaksikan tragedi.Kelaparan tidak lagi sebatas ujian Ilahi, tetapi direkayasa oleh manusia. Ada yang disebut fabricated famine alias kelaparan buatan, di mana rakyat dipaksa lapar karena permainan politik, ekonomi, atau kerakusan elite. Di titik inilah kita perlu membedakan,mana lapar yang mendidik jiwa vs lapar yang menindas manusia.
Hikmah “Sedikit Kelaparan” dalam Alquran.
Mengapa Allah memilih lapar sebagai ujian? Karena lapar menyentuh inti manusia: tubuh, jiwa, dan nafsu. Setidaknya ada lima hikmah besar: Pertama, melatih kesabaran-lapar membuat manusia sabar. Saat perut kosong, nafsu dikendalikan. Shaum adalah contoh nyata bahwa lapar melahirkan ketenangan dan keteguhan.
Kedua, menumbuhkan empati sosial. Lapar adalah jembatan menuju solidaritas. Hanya dengan perut lapar kita bisa merasakan nasib fakir miskin. Tanpa lapar, empati hanya slogan.
Ketiga,mendidik syukur.Kenyang berlebih sering menumbuhkan lalai. Lapar justru mengajarkan syukur atas sesuap nasi. Rasulullah SAW bersabda:“Barangsiapa bangun di pagi hari dalam keadaan aman, sehat, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan dunia telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmidzi).
Keempat,menyehatkan ruh dan tubuh.Lapar secukupnya membersihkan racun tubuh, sekaligus menundukkan hawa nafsu. Ulama sufi sering menjadikan lapar sebagai jalan mendekat kepada Allah.
Kelima,membedakan ujian dari azab. Allah menggunakan kata “sedikit kelaparan”. Itu menunjukkan rahmat. Sebaliknya, kelaparan parah akibat keserakahan bukan lagi ujian, tetapi azab sosial yang ditimbulkan manusia sendiri.
Pemimpin Harus Belajar Lapar
Sejarah Islam mencatat teladan luar biasa. Saat paceklik melanda Madinah, Umar bin Khattab tidak mau makan daging dan minyak. Ia hanya makan roti kering dengan minyak zaitun, sampai tubuhnya kurus dan kulitnya menghitam.
Ketika ditanya, Umar menjawab:“bagaimana mungkin aku bisa kenyang sementara rakyatku lapar?”
Inilah kepemimpinan fitrah: pemimpin ikut lapar bersama rakyatnya. Lapar dijadikan alat pendidikan diri, bukan sesuatu yang dihindari.
Bandingkan dengan sebagian elite hari ini: di ruang rapat ber-AC, mereka kenyang oleh fasilitas dan tunjangan, sementara rakyat antre beras murah dan minyak goreng. Dari sini kita melihat jurang: rakyat diuji lapar, elite menolak belajar lapar.
Elite Kehilangan “Sense of Crisis”
Fenomena di negeri kita menunjukkan ironi. Saat rakyat berhemat karena harga pangan naik, sebagian anggota DPR malah sibuk menuntut kenaikan tunjangan. Saat buruh menjerit, sebagian korporasi hitam justru mengumumkan keuntungan triliunan.
Inilah tanda hilangnya sense of crisis. Elite hidup di dunia kenyang, rakyat hidup di dunia lapar. Padahal, seorang pemimpin yang tidak pernah lapar, sulit punya empati. Mereka seakan tak tersentuh oleh pesan Qurani tentang sedikit kelaparan.
Serakahnomic dan Qarunomic: Ekonomi Tanpa Fitrah
Mengapa elite tega? Karena mereka sudah terjerat sistem nilai yang salah: Serakahnomic dan Qarunomic. Serakahnomic adalah ekonomi rakus dimana mengukur kemajuan hanya dengan akumulasi harta, menjadikan krisis sebagai peluang memperbesar keuntungan. Qarunomic terinspirasi dari Qarun (QS Al-Qashash:76–82), yang sombong dengan harta dan merasa semua karena “ilmunya” sendiri.
Kedua logika ini menutup mata terhadap lapar rakyat. Alih-alih belajar dari lapar, mereka justru mengeksploitasi lapar sebagai komoditas.
Fabricated Famine: Kelaparan Buatan sebagai Kejahatan
Kini kita masuk ke fenomena paling gelap: fabricated famine-kelaparan buatan.
Ada beberapa contoh sejarah: Pertama,Holodomor di Ukraina (1932–1933): jutaan mati kelaparan karena kebijakan Stalin menyita gandum rakyat. Kedua,Bengal di India (1943): 3 juta orang mati kelaparan karena Churchill menimbun beras untuk perang. Ketiga,Afrika: kelaparan di beberapa negara Afrika sering lebih karena perang, embargo, dan politik pangan, bukan sekadar iklim.
Fabricated famine adalah mekanisme modern.Itu terjadi ketika kartel pangan menimbun bahan pangan, lalu melepas dengan harga tinggi. Berikutnya adalah spekulasi pasar komoditas: harga bahan pokok naik bukan karena kurang produksi, tapi karena ulah spekulan.
Selanjutnya GMO dan Benih Paten-petani dipaksa tergantung pada benih impor, sehingga kontrol pangan ada di tangan korporasi global. Ini artinya,famine fabricated adalah senjata geopolitik dan ekonomi. Ia bukan sekadar bencana, tapi kejahatan terencana.
Ancaman Fabricated Famine
Meski negeri agraris, kita masih bergantung pada beberapa jenis bahan pangan. Ketergantungan ini rawan dipolitisasi. Kita juga sering mendengar isu kartel pangan: minyak goreng, daging, bahkan beras. Publik merasakan, harga bisa naik bukan karena gagal panen, tetapi karena permainan distribusi. Jika elite Serakahnomic dibiarkan, kelaparan buatan bisa benar-benar terjadi. Bukan karena Allah menguji dengan sedikit lapar, tapi karena manusia rakus yang sengaja membuat lapar.
Refleksi Qurani: Lapar Bisa Jadi Azab
QS An-Nahl:112 menegaskan: “Dan Allah membuat perumpamaan sebuah negeri yang aman dan tenteram, rezekinya datang melimpah dari segala tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat Allah, maka Allah timpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan perbuatan mereka sendiri.”
Ayat ini memperlihatkan, kelaparan bisa jadi azab sosial akibat keserakahan, korupsi, dan pengkhianatan elite. Bukan lagi “sedikit lapar” yang mendidik, melainkan lapar parah yangmenghancurkan.
Solusi agar Famine Fabricated Terhindar
Pertama Kedaulatan Pangan (Food Sovereignty). Pangan pokok selayaknya mengandalkan produksi dalam negeri.Petani diberdayakan dengan benih asli, bukan bergantung pada impor. Konsep AGROFITRAH diintegrasikan kepada kelompok tani.
Kedua, distribusi adil, antikartel. Kartel pangan mesti dihukum tegas. Kembangkan koperasi berbasis keadilan untuk distribusi beras, minyak, daging.
Ketiga,cadangan pangan strategis: dibangunnya lumbung pangan nasional dan daerah. Rasulullah SAW memberi teladan penyimpanan kurma sebagai persediaan.
Keempat, elite wajib belajar lapar: shaum bukan sekadar ritual, tapi pendidikan politik. Pejabat harus turun merasakan antrean beras, hidup di desa miskin.
Kelima, lawan Serakahnomic dengan Rahmanomic (ekonomi kasih sayang). Prinsipnya: pangan adalah hak rakyat, bukan alat spekulasi.
Belajar Lapar, Menolak Lapar Buatan
Alquran menunjukkan bahwa sedikit kelaparan adalah ujian kasih sayang Allah. Ia hadir untuk mendidik jiwa: sabar, syukur, empati. Namun, sejarah juga memperlihatkan sisi gelap: famine fabricated, kelaparan buatan yang lahir dari keserakahan elite dan korporasi.
Di sinilah tantangan kita, jangan biarkan lapar berubah dari guru kehidupan menjadi senjata penindasan.
Bangun sistem pangan berbasis fitrah, bukan rakus.
Didik elite agar belajar lapar, bukan lari dari lapar.
Jika ini dilakukan, bangsa akan selamat. Kenyang bukan berarti sombong, lapar bukan berarti hina, dan kekayaan tidak menjelma Qarun, tetapi amanah untuk kesejahteraan bersama.
Hikmahnya:
“Sedikit lapar adalah ujian.Banyak lapar karena keserakahan, adalah kezaliman.”
“Bangsa yang tidak menjaga kedaulatan pangan, mudah dijajah dengan kelaparan buatan.”
“Rahmanomic mengajarkan: kenyang untuk berbagi, bukan kenyang untuk menimbun.”