ARTICLE AD BOX
Meski tak mendengar langsung dari orang tuanya, anak Anda mungkin sudah mendengar adanya aksi demonstrasi yang berujung ricuh dan memakan korban, terutama pada malam tadi, Kamis (28/8). Mengingat sejumlah sekolah di Jakarta terpaksa memulangkan murid-muridnya lebih cepat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Anak-anak juga mungkin sudah melihat tayangan terkait betapa mencekamnya aksi demonstrasi di depan gedung DPR dan Mako Brimob. Ditambah lagi, peristiwa meninggalnya seorang driver ojol bernama Affan Kurniawan (21) akibat dilindas mobil rantis polisi, yang semakin membuat publik marah.
Sebagai seorang ibu, untuk memproses peristiwa ini saja tidaklah mudah. Melihat seorang pemuda yang dilindas polisi di depan mata, membuat dada begitu sesak. Sedih, marah, dan kecewa, bercampur menjadi satu. Tapi di sisi lain, tentu kita tidak ingin melihat anak-anak kita kehilangan harapan dengan negaranya sendiri.
Nah, Moms, berikut kumparanMOM rangkum cara menjelaskannya pada anak.
Cara Jelaskan Demonstrasi pada Anak
1. Gunakan bahasa sederhana sesuai usia
Jelaskan bahwa demonstrasi adalah cara orang banyak untuk menyampaikan pendapat kepada pemerintah, dan itu adalah hak semua orang. Katakan, “Kalau kita ingin didengar, kadang orang-orang berkumpul bersama supaya suaranya lebih kuat.”
2. Bedakan tujuan dengan situasi yang terjadi
Tekankan bahwa tujuan demo bukanlah membuat keributan. Orang-orang berdemonstrasi karena ingin perubahan atau ingin pemerintah memperhatikan masalah tertentu.
Namun, dalam situasi ramai kadang bisa terjadi hal-hal di luar kendali. Apalagi pemerintah tidak memberi respons yang melegakan, sehingga menimbulkan kemarahan massa.
3. Bicara dengan jujur soal korban jiwa
Ketika anak bertanya kenapa ada yang meninggal, jawab dengan tenang. Katakan bahwa kerumunan besar bisa berbahaya, apalagi jika terjadi dorong-dorongan atau kendaraan melintas.
Jelaskan dengan bahasa sederhana: “Kadang ada orang yang celaka, dan itu bikin sedih. Kita ikut mendoakan supaya keluarganya kuat.”
Ajak anak untuk menaruh rasa iba. Misalnya dengan berkata, “Coba bayangkan kalau itu kakak atau teman kita, pasti kita sedih sekali. Karena itu kita harus selalu mendoakan orang-orang yang terkena musibah.”
Ingatkan juga agar anak tidak berperilaku nirempati dan arogan. Terkadang mungkin kita melakukan kesalahan, tapi dalam kondisi apa pun, jangan pernah kehilangan rasa kemanusiaan.